APOLOGIA AKTIVIS KAMPRET
by Mokhamad Abdul Aziz
CV Nakomu (Penerbit Kertasentuh)
Book Information
Title
APOLOGIA AKTIVIS KAMPRET
Author
Mokhamad Abdul Aziz
Publication Year
2026
Publication Month
September
Number of Pages
191
Book Height
-
Reader Group
Umum
DDC Classification
002 — Buku
Publication Province
Jawa Timur
Publication City/District
Kabupaten Jombang
Book Link
https://www.penerbitnakomu.com/2026/09/14/apologia-aktivis-kampret/
Description / Abstract
Saya selalu senang ketika orang muda memilih menulis. Sebab menulis bukan hanya soal menyampaikan gagasan, tetapi juga meninggalkan jejak. Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Pikiran boleh lahir dari satu zaman, tetapi tulisan membuatnya bisa melampaui zaman. Karena itu, saya mengapresiasi Mokhamad Abdul Aziz yang memilih merawat kegelisahan dan pengalaman aktivismenya melalui buku Apologia Aktivis Kampret. Buku ini lahir dari catatan-catatan yang terkumpul sejak bertahun-tahun, dari kegelisahan melihat dunia aktivisme yang dicintai, tetapi kadang justru menjauh dari cita-cita yang diperjuangkannya. Yang menarik, Aziz tidak menyampaikan kritiknya dengan bahasa yang berat. Ia memilih jalan satir, jenaka, dan kadang nakal. Laron, kampret, bunglon, belalang sembah, dan lebah dijadikan metafora untuk membaca berbagai watak yang tumbuh dalam dunia aktivisme. Ada yang mudah silau, merasa paling berjasa, pandai menyesuaikan warna, tampak mengayomi tetapi sesungguhnya menguasai, hingga mereka yang memilih bekerja dan memberi manfaat. Justru di situlah kekuatan buku ini. Ia tidak sibuk menggurui. Ia mengajak kita tertawa, lalu perlahan mengajak berkaca. Karena dalam perjalanan sebagai aktivis, mungkin kita pernah menjadi laron, pernah menjadi kampret, pernah menjadi bunglon, atau bahkan belalang sembah. Yang terpenting adalah kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Saya terutama menyukai pilihan penulis menjadikan lebah sebagai bagian terakhir. Lebah menjadi gambaran tentang aktivis yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi bekerja, menghasilkan, dan memberi manfaat. Bagi saya, inilah arah yang penting bagi aktivisme hari ini: dari kegaduhan menuju karya, dari merasa paling berjasa menuju memberi manfaat, dari sibuk menilai orang lain menuju keberanian berkaca pada diri sendiri. Buku ini karena itu bukan sekadar kritik terhadap aktivis. Ia adalah ajakan untuk menjaga aktivisme agar tetap sehat, relevan, dan berguna. Kritik yang lahir dari kecintaan tentu berbeda dengan kritik yang hanya ingin merendahkan. Saya melihat buku ini berada pada jenis yang pertama. Selamat kepada Mokhamad Abdul Aziz. Teruslah menulis, teruslah berkarya. Sebab setiap generasi membutuhkan orang-orang yang mau mencatat zamannya, termasuk kegelisahan, kelucuan, kekeliruan, dan harapannya. Semoga Apologia Aktivis Kampret menjadi salah satu cermin bagi kita semua: untuk tertawa, berpikir, lalu memperbaiki diri.
Synopsis
Saya selalu senang ketika orang muda memilih menulis. Sebab menulis bukan hanya soal menyampaikan gagasan, tetapi juga meninggalkan jejak. Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Pikiran boleh lahir dari satu zaman, tetapi tulisan membuatnya bisa melampaui zaman. Karena itu, saya mengapresiasi Mokhamad Abdul Aziz yang memilih merawat kegelisahan dan pengalaman aktivismenya melalui buku Apologia Aktivis Kampret. Buku ini lahir dari catatan-catatan yang terkumpul sejak bertahun-tahun, dari kegelisahan melihat dunia aktivisme yang dicintai, tetapi kadang justru menjauh dari cita-cita yang diperjuangkannya. Yang menarik, Aziz tidak menyampaikan kritiknya dengan bahasa yang berat. Ia memilih jalan satir, jenaka, dan kadang nakal. Laron, kampret, bunglon, belalang sembah, dan lebah dijadikan metafora untuk membaca berbagai watak yang tumbuh dalam dunia aktivisme. Ada yang mudah silau, merasa paling berjasa, pandai menyesuaikan warna, tampak mengayomi tetapi sesungguhnya menguasai, hingga mereka yang memilih bekerja dan memberi manfaat. Justru di situlah kekuatan buku ini. Ia tidak sibuk menggurui. Ia mengajak kita tertawa, lalu perlahan mengajak berkaca. Karena dalam perjalanan sebagai aktivis, mungkin kita pernah menjadi laron, pernah menjadi kampret, pernah menjadi bunglon, atau bahkan belalang sembah. Yang terpenting adalah kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Saya terutama menyukai pilihan penulis menjadikan lebah sebagai bagian terakhir. Lebah menjadi gambaran tentang aktivis yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi bekerja, menghasilkan, dan memberi manfaat. Bagi saya, inilah arah yang penting bagi aktivisme hari ini: dari kegaduhan menuju karya, dari merasa paling berjasa menuju memberi manfaat, dari sibuk menilai orang lain menuju keberanian berkaca pada diri sendiri. Buku ini karena itu bukan sekadar kritik terhadap aktivis. Ia adalah ajakan untuk menjaga aktivisme agar tetap sehat, relevan, dan berguna. Kritik yang lahir dari kecintaan tentu berbeda dengan kritik yang hanya ingin merendahkan. Saya melihat buku ini berada pada jenis yang pertama. Selamat kepada Mokhamad Abdul Aziz. Teruslah menulis, teruslah berkarya. Sebab setiap generasi membutuhkan orang-orang yang mau mencatat zamannya, termasuk kegelisahan, kelucuan, kekeliruan, dan harapannya. Semoga Apologia Aktivis Kampret menjadi salah satu cermin bagi kita semua: untuk tertawa, berpikir, lalu memperbaiki diri.
QRSBN Status
QRSBN Number
62-0324-04010-4
Date Accepted
14 Sep 2026
Submission Date
14 Sep 2026
Status
ValidatedPublisher
Publisher Name
CV Nakomu (Penerbit Kertasentuh)
Location
Kabupaten Jombang, Jawa Timur