The Silent Talk: Senyap, Dekonstruksi, dan Resistensi Serat Candrarini
by Evi Iryani; Editor : Ahmad Taufiq, S.S., M.Pd.
CV Cahaya Teratai Publishing
Book Information
Title
The Silent Talk: Senyap, Dekonstruksi, dan Resistensi Serat Candrarini
Author
Evi Iryani; Editor : Ahmad Taufiq, S.S., M.Pd.
Edition
1
Series
1
Publication Year
2026
Publication Month
Oktober
Number of Pages
178
Book Height
21 cm
Reader Group
Umum
Library Type
Buku Populer
Genre Category
Buku Umum
Publication
CV Cahaya Teratai Publishing
Media
Buku
Book Category
The Silent Talk: Senyap, Dekonstruksi, dan Resiste
DDC Classification
001 — Pengetahuan
Publication Province
Jawa Timur
Publication City/District
Kabupaten Banyuwangi
Distributor
CAHAYA TERATAI STORE
Book Link
https://cahayateratai.com/product/the-silent-talk-senyap-dekonstruksi-dan-resistensi-serat-candrarini/
Subject
The Silent Talk: Senyap, Dekonstruksi, dan Resistensi Serat Candrarini
Description / Abstract
T ulisan ini bukan bertujuan untuk menjawab semua pertanyaan “kenapa”, juga tidak memberikan gambaran tentang “seandainya”. Tulisan ini adalah bentuk cara berpikir lain dari penulis Namun, sebelum pembaca melangkah lebih jauh, saya perlu menyampaikan secara langsung dan jujur, bukan sebagai basa-basi pembuka, melainkan sebagai batasan yang saya pegang teguh sepanjang menulis buku ini. Saya tidak bermaksud mengubah, mengoreksi, atau menggantikan Serat Candrarini sebagai sebuah naskah. Setiap kutipan gatra yang saya hadirkan dalam buku ini saya sajikan apa adanya, sebagaimana ia diwariskan, tanpa niat sedikit pun untuk menulis ulang, menambah atau mengurangi tembung demi tembung di dalamnya. Pembacaan dekonstruktif yang saya lakukan bukan upaya untuk “membetulkan” naskah ini menjadi sesuatu yang lain dari dirinya sendiri. Ia adalah cara membaca, satu dari sekian banyak cara membaca yang mungkin belum banyak dibicarakan, tanpa pernah berniat menghapus atau menggantikan makna yang sudah lama diterima. Hal yang sama berlaku bagi budaya yang melahirkan naskah ini. Saya tidak bermaksud mengubah, menggugat, atau merobohkan struktur budaya Jawa. Rila, narima, dan sabar, yang muncul berulang di sepanjang Candrarini, adalah bagian dari cara berpikir yang saya hormati, bukan sesuatu yang ingin saya nyatakan keliru. Ketika saya menunjukkan oposisi biner atau celah différance dalam sebuah gatra, saya sedang mencoba memahami bagaimana bahasa bekerja. Saya tidak sedang menjatuhkan vonis bahwa tradisi yang melahirkannya perlu ditinggalkan. Saya juga tidak menyentuh ranah keyakinan. Serat Candrarini lahir dari lingkungan istana yang kental dengan nuansa spiritual pada masanya, dan buku ini tidak dimaksudkan untuk menilai benar atau salahnya ajaran agama mana pun. Yang saya baca adalah teks sebagai rangkaian bahasa dan tanda, wilayah kajian sastra dan linguistik, bukan teologi. Kalau dulu kekecewaan saya berbentuk pertanyaan yang tidak pernah terjawab, kini saya mencoba mengolahnya menjadi cara membaca. Buku ini tidak mengandaikan “seandainya” apa pun. Ia hanya bertanya, dengan tenang dan sebisa mungkin dengan adil: apa yang tampak ketika sebuah teks yang kita kira sudah selesai dimaknai kita baca sekali lagi, pelan-pelan, sampai ke celah-celahnya? Jawabannya mungkin tidak memuaskan semua orang, termasuk saya sendiri. Tetapi saya percaya, memperlakukan sebuah naskah dengan cukup serius untuk membacanya sedalam ini adalah salah satu cara menghargainya. Karena itu, pembaca boleh tidak sepakat dengan apa pun yang saya tuliskan. Silakan membaca dengan kritis, membantah, atau menemukan celah lain yang luput dari mata saya. Buku ini hanya mengajak kita berjalan bersama menyusuri teksnya, bukan menyimpulkan tergesa-gesa bahwa ia hanya patut dipuji atau hanya patut dikecam.
Synopsis
Serat Candrarini ditulis Ranggawarsita atas perintah Pakubuwana IX sebagai pedoman perilaku bagi istri dalam rumah tangga poligami. Lewat lima istri Arjuna, naskah ini tampak mengajarkan satu hal: patuh, sabar, dan rila. Tetapi benarkah kepatuhan itu sesederhana kelihatannya? Buku ini membaca lima pupuh, yaitu Sinom, Dhandhanggula, Asmarandana, Mijil, dan Kinanthi, gatra demi gatra. Dengan dekonstruksi Jacques Derrida dan gagasan hidden transcript James C. Scott, buku ini menunjukkan bahwa di balik oposisi biner yang tampak kokoh, makna terus tertunda, dan perlawanan hadir dalam bentuk paling sunyi: diam, siasat, bahkan canda. Buku ini tidak berniat mengubah naskah, menggugat budaya, atau menyentuh keyakinan. Ia hanya mengajak pembaca membaca ulang, pelan-pelan, sampai ke celah-celahnya.
QRSBN Status
QRSBN Number
62-0336-04318-7
Date Accepted
21 Oct 2026
Submission Date
21 Oct 2026
Status
ValidatedPublisher
Publisher Name
CV Cahaya Teratai Publishing
Location
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur