PELITA DI TENGAH KEGELAPAN
by Pdt.Remanto Tumanggor, MTh
THEOVERRABOOKS
Book Information
Title
PELITA DI TENGAH KEGELAPAN
Author
Pdt.Remanto Tumanggor, MTh
Edition
Cetakan 1
Publication Year
2026
Publication Month
September
Number of Pages
136
Book Height
21 cm
Reader Group
Dewasa
Library Type
Non-Fiksi
Genre Category
Buku Agama
Publication
Cetakan 1
Media
E-book (PDF)
Book Category
E-book Kristiani
DDC Classification
230 โ Teologi Doktrinal Kristen
Publication Province
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Publication City/District
Kota Administrasi Jakarta Barat
Book Link
https://sites.google.com/view/remantobooks/e-book_1
Subject
Peran Pendeta sebagai Penuntun Jiwa di Dunia Modern
Description / Abstract
PELITA DI TENGAH KEGELAPAN Peran Pendeta sebagai Penuntun Jiwa di Dunia Modern PELITA DI TENGAH KEGELAPAN merupakan sebuah refleksi mengenai panggilan dan peran pendeta sebagai penuntun jiwa di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, tekanan kehidupan, perubahan pola relasi, serta berbagai persoalan manusia menghadirkan kebutuhan akan pendampingan spiritual yang tidak hanya berbicara, tetapi juga mampu mendengar, memahami, dan berjalan bersama umat. Dalam konteks tersebut, pendeta tidak hanya dipahami sebagai orang yang berdiri di mimbar untuk memberitakan Firman. Pendeta juga hadir sebagai gembala, pengajar, pendamping, pendoa, konselor pastoral, dan teladan kehidupan iman. Kehadiran pendeta dibutuhkan bukan untuk menggantikan tanggung jawab pribadi umat, melainkan untuk menolong mereka menemukan arah, makna, pengharapan, dan kekuatan dalam terang Firman Tuhan. Metafora โpelitaโ menjadi gambaran penting dalam buku ini. Pelita tidak menghilangkan seluruh kegelapan sekaligus, tetapi memberikan cahaya yang memungkinkan seseorang melihat jalan di hadapannya. Demikian pula pelayanan pendeta bukan berarti mampu memberikan jawaban terhadap semua persoalan manusia. Namun melalui pemberitaan Firman, pendampingan, doa, perhatian, dan keteladanan, pendeta dapat membantu umat berjalan dalam situasi yang tidak selalu mudah. Buku ini juga mengajak pembaca memahami tantangan pelayanan pastoral di dunia modern. Manusia dapat hidup di tengah keramaian tetapi mengalami kesepian, memiliki banyak informasi tetapi kehilangan hikmat, memiliki banyak koneksi tetapi mengalami keterasingan, dan memiliki berbagai pilihan tetapi kesulitan menentukan arah. Situasi tersebut menuntut pelayanan yang mampu menyentuh manusia secara utuh. Peran pendeta juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan komunitas iman. Gereja merupakan ruang di mana manusia belajar mengenal Allah, membangun relasi, menerima penguatan, melayani, dan bertumbuh bersama. Karena itu, pelayanan pendeta memiliki dimensi personal sekaligus komunal. Buku ini menekankan bahwa seorang pendeta juga adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Ia membutuhkan kehidupan doa, pembaruan spiritual, pembelajaran, komunitas, dan keseimbangan hidup agar mampu menjalankan pelayanannya dengan setia. Pelayanan yang sehat bukan hanya tentang memberikan diri kepada orang lain, tetapi juga tentang terus memelihara kehidupan rohani di hadapan Tuhan. PELITA DI TENGAH KEGELAPAN dapat menjadi bahan refleksi bagi pendeta, calon pendeta, mahasiswa teologi, pelayan gereja, serta jemaat yang ingin memahami panggilan dan tanggung jawab pelayanan pastoral dalam konteks zaman yang terus berubah. Pada akhirnya, buku ini mengingatkan bahwa tugas utama pendeta bukan menjadi pusat perhatian, melainkan menunjuk kepada Kristus. Seperti pelita yang membantu seseorang menemukan jalan, pelayanan pendeta dipanggil untuk mengarahkan manusia kepada Firman, kasih karunia, kebenaran, dan pengharapan di dalam Tuhan. Pendeta bukanlah sumber terang itu sendiri; ia dipanggil untuk menjadi pelita yang menunjuk manusia kepada Sang Terang.
Synopsis
PELITA DI TENGAH KEGELAPAN Peran Pendeta sebagai Penuntun Jiwa di Dunia Modern Dunia modern menawarkan begitu banyak kemajuan, tetapi kemajuan tidak selalu membuat manusia menemukan kedamaian. Informasi semakin mudah diperoleh, komunikasi semakin cepat, dan teknologi semakin dekat dengan kehidupan manusia. Namun di tengah semua itu, banyak orang tetap menghadapi pertanyaan tentang makna hidup, kesepian, kecemasan, kehilangan arah, konflik relasi, dan pergumulan iman. Di tengah situasi tersebut, apa arti kehadiran seorang pendeta? PELITA DI TENGAH KEGELAPAN mengajak pembaca merenungkan kembali peran pendeta sebagai penuntun jiwa di tengah perubahan zaman. Pendeta dipanggil untuk hadir bukan hanya ketika seseorang datang ke gereja, tetapi juga ketika manusia sedang berada dalam persimpangan kehidupan: ketika berduka, mengambil keputusan, menghadapi krisis, mengalami kegagalan, mencari pengampunan, atau mempertanyakan makna kehidupan. Seorang pendeta memiliki tugas memberitakan Firman, tetapi pelayanan tersebut tidak berhenti pada penyampaian kata-kata. Firman perlu dihadirkan dalam kehidupan nyata melalui pendampingan, perhatian, doa, keteladanan, dan keberanian untuk berjalan bersama umat dalam berbagai keadaan. Metafora pelita menggambarkan pelayanan tersebut dengan sederhana. Dalam kegelapan, seseorang tidak selalu membutuhkan cahaya yang sangat besar. Terkadang ia hanya membutuhkan cahaya yang cukup untuk melihat langkah berikutnya. Demikian pula dalam pelayanan pastoral, tidak semua persoalan harus langsung mendapatkan jawaban. Terkadang kehadiran yang setia, telinga yang mau mendengar, doa yang sungguh-sungguh, dan Firman yang disampaikan dengan kasih sudah menjadi bagian penting dari perjalanan seseorang. Buku ini juga mengajak pembaca melihat bahwa manusia modern membutuhkan pendampingan yang menghargai kompleksitas kehidupan. Pendeta berhadapan dengan jemaat dari berbagai latar belakang, usia, pengalaman, pendidikan, pekerjaan, dan pergumulan. Karena itu, pelayanan membutuhkan hikmat, empati, kepekaan pastoral, kemampuan mendengar, serta kesediaan untuk terus belajar. Di sisi lain, pendeta tidak diposisikan sebagai manusia tanpa kelemahan. Seorang pelayan Tuhan juga dapat mengalami kelelahan, kesepian, kekecewaan, dan pergumulan pribadi. Karena itu, kehidupan spiritual pendeta sendiri perlu dipelihara. Seorang penuntun jiwa membutuhkan sumber kekuatan yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Buku ini mengajak pendeta untuk memandang pelayanan bukan sebagai panggung untuk menunjukkan diri, melainkan sebagai panggilan untuk melayani. Wibawa pastoral dibangun melalui integritas, konsistensi, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kesediaan untuk hadir bagi umat. Bagi jemaat, buku ini juga membantu memahami bahwa pendeta bukan sekadar pelaksana ritual keagamaan. Pendeta merupakan bagian dari komunitas iman yang dipanggil untuk menggembalakan, mengajar, memberitakan Firman, dan mendampingi umat dalam perjalanan spiritual mereka. Pada akhirnya, PELITA DI TENGAH KEGELAPAN mengarahkan perhatian kepada Kristus sebagai pusat pelayanan gereja. Pendeta bukan tujuan akhir dari perjalanan iman umat. Ia adalah pelayan yang dipanggil untuk menolong manusia melihat jalan dan berjalan menuju Sang Terang. Dalam dunia yang sering membuat manusia kehilangan arah, pelayanan pendeta dipanggil untuk menghadirkan cahaya yang menuntun, bukan cahaya yang menyilaukan; cahaya yang mengarahkan manusia kepada Kristus.
QRSBN Status
QRSBN Number
62-0430-04084-9
Date Accepted
16 Sep 2026
Submission Date
16 Sep 2026
Status
ValidatedPublisher
Publisher Name
THEOVERRABOOKS
Location
Kota Administrasi Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta