Logo
QRSBN QR Code Standard Book Number
Home Search Book Detail
QRSBN Verified

PENGHIBURAN DI TENGAH DUKA

by Pdt.Remanto Tumanggor, MTh

THEOVERRABOOKS

62-0430-04086-3
QR Code

Book Information

Title

PENGHIBURAN DI TENGAH DUKA

Author

Pdt.Remanto Tumanggor, MTh

Edition

Cetakan 1

Publication Year

2026

Publication Month

Agustus

Number of Pages

116

Book Height

21 cm

Reader Group

Dewasa

Library Type

Non-Fiksi

Genre Category

Buku Agama

Publication

THEOVERRABOOKS

Media

E-book (PDF)

Book Category

E-book Kristiani

DDC Classification

230 — Teologi Doktrinal Kristen

Publication Province

Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Publication City/District

Kota Administrasi Jakarta Barat

Book Link

https://sites.google.com/view/remantobooks/e-book_1

Subject

Refleksi melalui Cerita dan Ilustrasi

Description / Abstract

PENGHIBURAN DI TENGAH DUKA Refleksi melalui Cerita dan Ilustrasi Duka adalah bagian dari pengalaman manusia yang tidak dapat dihindari. Kehilangan orang yang dikasihi, berpisah dengan seseorang yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan, atau menghadapi perubahan besar setelah sebuah kehilangan dapat meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dalam keadaan seperti itu, seseorang tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Sering kali yang paling dibutuhkan adalah kehadiran, pengertian, kesediaan mendengarkan, dan sebuah kata yang mampu menyalakan kembali harapan. Buku PENGHIBURAN DI TENGAH DUKA hadir sebagai bahan refleksi bagi mereka yang sedang berjalan melewati masa kehilangan maupun bagi siapa saja yang ingin belajar mendampingi orang yang sedang berduka. Melalui cerita dan ilustrasi kehidupan, buku ini mengajak pembaca melihat bahwa duka bukanlah pengalaman yang harus disangkal atau disembunyikan. Menangis, merasa kehilangan, mengingat seseorang, bahkan mengalami kebingungan merupakan bagian dari proses manusia menghadapi kenyataan kehilangan. Dalam perspektif iman Kristen, penghiburan tidak berarti mengatakan bahwa segala sesuatu akan segera terasa baik-baik saja. Penghiburan justru dimulai dengan keberanian untuk mengakui bahwa luka itu nyata. Iman memberikan ruang bagi air mata sekaligus membuka kemungkinan bagi pengharapan. Di tengah kesedihan, manusia diajak untuk percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya dan bahwa kehidupan tetap berada dalam pemeliharaan-Nya. Cerita dan ilustrasi dalam buku ini digunakan sebagai jembatan untuk memahami berbagai sisi kehidupan manusia. Sebuah perjalanan dapat menggambarkan proses melewati kehilangan. Sebuah cahaya kecil dapat menjadi gambaran harapan ketika seseorang merasa berada dalam kegelapan. Sebuah pohon yang tetap berdiri setelah diterpa badai dapat mengingatkan bahwa kehidupan dapat terus bertahan meskipun pernah mengalami guncangan yang berat. Buku ini juga memberikan perhatian pada pentingnya kehadiran dalam pelayanan penghiburan. Orang yang berduka tidak selalu membutuhkan jawaban atas pertanyaan “mengapa”. Ada pertanyaan-pertanyaan tentang penderitaan dan kematian yang memang tidak mudah dijawab. Karena itu, mendampingi orang berduka membutuhkan kerendahan hati untuk hadir tanpa memaksakan penjelasan, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menemani tanpa tergesa-gesa menghapus kesedihan. Penghiburan juga tidak hanya berkaitan dengan saat pemakaman atau hari-hari pertama setelah kehilangan. Duka dapat kembali muncul pada hari ulang tahun, hari raya, peringatan tertentu, atau ketika seseorang menemukan benda dan tempat yang mengingatkannya kepada orang yang telah tiada. Karena itu, perjalanan berduka membutuhkan waktu. Tidak ada satu pola yang sama bagi setiap orang. Melalui refleksi-refleksi yang sederhana namun bermakna, buku ini mengajak pembaca menemukan bahwa di tengah duka masih terdapat ruang bagi kasih, kenangan, iman, dan pengharapan. Kehilangan tidak menghapus seluruh makna kehidupan. Air mata tidak selalu merupakan tanda kelemahan; terkadang air mata menjadi bahasa kasih yang tidak sanggup diungkapkan oleh kata-kata. Di tengah duka, penghiburan bukan berarti menghapus air mata, melainkan menghadirkan harapan agar seseorang mampu berjalan melewati air matanya bersama Tuhan.

Synopsis

PENGHIBURAN DI TENGAH DUKA Refleksi melalui Cerita dan Ilustrasi Ada kehilangan yang membuat rumah terasa berbeda. Ada kursi yang tetap kosong, suara yang tidak lagi terdengar, kebiasaan yang tiba-tiba berhenti, dan kenangan yang datang tanpa diundang. Bagi seseorang yang sedang berduka, dunia yang sebelumnya terasa biasa dapat berubah dalam waktu yang sangat singkat. Buku PENGHIBURAN DI TENGAH DUKA mengajak pembaca memasuki realitas tersebut dengan pendekatan yang lembut, manusiawi, dan berakar pada iman. Buku ini tidak berusaha memberikan jawaban sederhana terhadap semua persoalan tentang kematian dan kehilangan. Sebaliknya, pembaca diajak memahami bahwa duka memiliki prosesnya sendiri. Ada saat untuk menangis, mengingat, diam, bertanya, menerima, dan perlahan-lahan belajar menjalani kehidupan dalam keadaan yang baru. Melalui berbagai cerita dan ilustrasi, pengalaman duka disampaikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal-hal sederhana digunakan untuk menggambarkan pengalaman yang sering kali sulit dijelaskan: perjalanan yang panjang sebagai gambaran proses pemulihan, cahaya sebagai simbol harapan, pelukan sebagai bahasa kehadiran, dan kenangan sebagai bagian dari kasih yang tetap memiliki makna. Salah satu pesan penting buku ini adalah bahwa orang yang berduka tidak harus dipaksa untuk segera “melupakan”. Kehilangan seseorang yang dikasihi tidak berarti kasih harus ikut berakhir. Kenangan dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang dalam menerima kenyataan. Yang berubah adalah bentuk kehadiran, bukan berarti seluruh makna hubungan harus dihapuskan. Dalam pendampingan pastoral, buku ini juga mengingatkan bahwa kehadiran sering kali lebih bermakna daripada banyak kata. Ketika seseorang tidak mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang yang berduka, ia tetap dapat hadir, mendengarkan, berdoa, dan menunjukkan kepedulian. Penghiburan bukan selalu kemampuan menemukan kalimat yang tepat, tetapi kesediaan untuk tidak meninggalkan seseorang sendirian dalam masa sulitnya. Refleksi dalam buku ini kemudian membawa pembaca kepada dimensi iman. Di tengah kematian dan kehilangan, iman Kristen mengarahkan hati kepada Allah yang menjadi tempat perlindungan dan pengharapan. Pengharapan Kristen bukan penyangkalan terhadap kesedihan, melainkan keyakinan bahwa kematian dan penderitaan bukanlah kata terakhir atas kehidupan. Karena itu, orang percaya dapat menangis sekaligus berharap. Buku ini dapat menjadi teman refleksi bagi mereka yang sedang berduka, keluarga yang mengalami kehilangan, pelayan gereja, pendeta, penatua, konselor pastoral, maupun siapa saja yang ingin belajar menjadi sahabat bagi orang yang sedang mengalami masa sulit. Isinya juga dapat digunakan sebagai bahan renungan dalam pelayanan penghiburan dan pendampingan jemaat. Pada akhirnya, PENGHIBURAN DI TENGAH DUKA mengajak pembaca memahami bahwa perjalanan melewati kehilangan tidak harus ditempuh seorang diri. Ada tangan yang menemani, ada komunitas yang hadir, ada kenangan yang tetap bermakna, dan terutama ada pengharapan kepada Tuhan yang menyertai manusia dalam lembah kehidupan. Ketika kata-kata tidak lagi mampu menjelaskan kehilangan, kehadiran menjadi bahasa kasih; ketika air mata belum berhenti, iman memberi ruang bagi pengharapan.

QRSBN Status

QRSBN Number

62-0430-04086-3

Date Accepted

16 Sep 2026

Submission Date

16 Sep 2026

Status

Validated

Publisher

Publisher Name

THEOVERRABOOKS

Location

Kota Administrasi Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta