Merawat di Tanah Papua, Bertumbuh di Kampus Merah: Kisah Pengabdian dan Perjuangan Anak Petani Menuju Gelar Magister
oleh Ns. Sarjin Danun, S.Kep., MARS; Risnawati Basir, S.Pd., Gr; Dr. dr. H. M. Ishaq Iskandar, M.Kes., M.
CV. Nas Media Pustaka
Informasi Buku
Judul
Merawat di Tanah Papua, Bertumbuh di Kampus Merah: Kisah Pengabdian dan Perjuangan Anak Petani Menuju Gelar Magister
Penulis
Ns. Sarjin Danun, S.Kep., MARS; Risnawati Basir, S.Pd., Gr; Dr. dr. H. M. Ishaq Iskandar, M.Kes., M.
Edisi
Monograf
Seri
Tidak berseri
Tahun Terbit
2026
Bulan Terbit
September
Jumlah Halaman
100
Tinggi Buku
21 cm
Kelompok Pembaca
Umum
Jenis Pustaka
Non-Fiksi
Kategori Jenis
Biografi/Memoar
Terbitan
PT. Nas Media Indonesia
Media
Buku
Kategori Buku
Memoar
Klasifikasi DDC
002 — Buku
Provinsi Terbit
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Kota/Kab Terbit
Kota Administrasi Jakarta Selatan
Distributor
https://nasmedia.id/store
Link Buku
https://nasmedia.id/store/merawat-di-tanah-papua-bertumbuh-di-kampus-merah/
Deskripsi / Abstrak
Keluarga adalah tempat pertama saya belajar tentang kerja, kehilangan, disiplin, doa, dan kesempatan. Saya tidak memahami semuanya ketika masih kecil. Banyak makna baru terbaca setelah saya bekerja jauh dari rumah dan kembali menjadi mahasiswa. Karena itu, bab ini tidak saya tulis untuk meromantisasi kesederhanaan, melainkan untuk menunjukkan dari mana kebiasaan-kebiasaan yang terus saya bawa berasal. Gaena Danun dan Maria Palute membangun keluarga dalam kesederhanaan. Mereka menikah secara sederhana pada 13 November 1974 di Gereja Toraja Jemaat Bethesda, Rantedamai. Sehari kemudian, pada 14 November 1974, mereka berpindah ke Desa Kalpataru Rantemario, yang pada saat itu masih dalam lingkup pemerintahan wilayah Kabupaten Luwu yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Luwu Timur. Dua tanggal yang berdekatan itu menjadi awal cerita keluarga yang kelak membentuk cara saya memandang kerja, tanggung jawab, pendidikan, dan keberanian memulai kehidupan dari apa yang tersedia. Sebelum saya mempunyai cerita tentang sekolah, pekerjaan, Papua, atau kampus, sudah ada cerita Papa dan Mama. Itulah sebabnya saya menempatkan nama mereka dekat dengan awal buku. Kehidupan Papa sebagai anak yatim piatu dan keterbatasan sekolah Mama bukan latar yang saya gunakan untuk meminta belas kasihan. Bagi saya, keduanya menjelaskan mengapa pendidikan di rumah kami selalu mempunyai nilai yang lebih besar daripada sekadar ijazah. Saya menerima kesempatan yang dahulu tidak tersedia bagi orang tua saya. Kesadaran itu membuat setiap jenjang pendidikan terasa sebagai kelanjutan dari kerja keluarga, bukan kemenangan pribadi yang berdiri sendiri.
Sinopsis
Tanggal 18 Agustus 2026 kini sudah menjadi bagian dari riwayat hidup saya. Di Universitas Hasanuddin, setelah rangkaian perkuliahan, tugas, diskusi, revisi, presentasi, dan proses akademik yang panjang, saya menyelesaikan ujian Program Magister Administrasi Rumah Sakit dan dinyatakan lulus. Ada kelegaan, tentu saja. Ada rasa syukur yang sulit diringkas. Akan tetapi, ketika hari itu akhirnya datang, ingatan saya tidak berhenti pada ruang ujian atau gelar yang kemudian mengikuti nama. Pikiran saya justru bergerak jauh ke sebuah rumah sederhana di Desa Kalpataru Rantemario. Saya membayangkan Papa dan Mama pada masa ketika kehidupan mereka baru dimulai. Mereka menikah pada 13 November 1974 di Gereja Toraja Jemaat Bethesda, Rantedamai. Sehari setelahnya mereka berpindah ke Desa Kalpataru Rantemario. Sebelum mempunyai rumah yang lebih layak, mereka pernah memulai kehidupan dari pondok sekitar dua kali dua meter beralas bambu. Tidak ada gelar akademik yang dapat mereka andalkan. Ada cangkul, arit, lahan yang harus diolah, dan keberanian untuk menyusun kehidupan dari apa yang tersedia.
Status QRSBN
Nomor QRSBN
62-0071-03995-4
Tanggal Diterima
10 Sep 2026
Tanggal Pengajuan
10 Sep 2026
Status
TervalidasiPenerbit
Nama Penerbit
CV. Nas Media Pustaka
Lokasi
Kota Makassar, Sulawesi Selatan