Mengejar Cahaya Dibalik Batas
oleh Andik M. (Andik Marianto)
Penerbit CV. Sahabat Kediri
Informasi Buku
Judul
Mengejar Cahaya Dibalik Batas
Penulis
Andik M. (Andik Marianto)
Edisi
1
Seri
1
Tahun Terbit
2026
Bulan Terbit
September
Jumlah Halaman
104
Tinggi Buku
21 cm
Kelompok Pembaca
Semua Usia
Jenis Pustaka
Fiksi
Kategori Jenis
Novel
Terbitan
1
Media
Buku
Kategori Buku
Novel
Klasifikasi DDC
002 — Buku
Provinsi Terbit
Jawa Timur
Kota/Kab Terbit
Kota Kediri
Distributor
Penerbit CV. Sahabat Kediri
Link Buku
https://penerbitcvsahabatkediri.com/catalogue/mengejar-cahaya-dibalik-batas/
Subject
Novel
Deskripsi / Abstrak
Buku Novel “Mengejar Cahaya Dibalik Batasan“ Menceritakan kisah kehidupan seorang anak desa mewakali jutaan anak di seluruh pelosok negeri yang terus berjuang di tengah keterbatasan ekonomi. Melalui perjalanan karakter Fajar, pesan yang ingin di sampaikan kemiskinan bukan identitas. Kemiskinan adalah kondisi finansial, bukan batas kemampuan berpikir atau bermimpi. Nilai dari keterbatasan: Keterbatasan bahan justru melahirkan kreativitas dan ketangguhan yang tidak dimiliki oleh mereka yang serba ada pendidikan sebagai Pintu Gerbang Pengetahuan adalah satu-satunya alat pengungkit paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi “Keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk memenjarakan daya cipta, sekecil apa pun cahaya yang dimiliki seseorang, jika diperjuangkan dengan kejujuran dan keteguhan jiwa, ia sanggup meleburkan gulita sebesar apa pun.” Di Kampung Muara Banteng—sebuah desa pelosok terisolasi yang belum pernah tersentuh aliran listrik—hidup seorang remaja bernama Fajar bersama ibunya yang renta dan sakit-sakitan. Terhimpit oleh kemiskinan dan keterbatasan, Fajar harus belajar di bawah remang asap lampu minyak jelaga sambil memikul impian besar: membawa cahaya terang ke desanya. Demi mengejar cita-citanya, Fajar merantau ke Surabaya untuk bersekolah di SMK Teknik. Di kota besar, perjuangannya tidak makin mudah. Ia harus membagi waktunya antara bertahan hidup sebagai pekerja kasar di garasi kendaraan milik Bang Berto, berburu limbah komponen elektronik bekas di pasar tua, dan menjaga nilai akademiknya demi mempertahankan beasiswa. Ujian terberat menghampirinya ketika sang ibu kritis akibat infeksi berat di desa, tepat menjelang babak penyisihan Lomba Inovasi Teknologi Nasional (LITN). Di tengah keputusasaan, kemiskinan, dan godaan untuk berbuat curang saat menemukan dompet berisi uang jutaan rupiah, kejujuran Fajar diuji dan membawanya pada keajaiban yang menyelamatkan nyawa ibunya. Berbekal kawat tembaga bekas, pipa PVC, alternator truk tronton, dan otak yang tajam, Fajar bersama sahabatnya, Bayu, merakit Turbin Mikrohidro Portabel Pintar (Smart-Pico hydro) dari rongsokan sampah elektronik. Di panggung kompetisi nasional, ia berhasil membuktikan bahwa teknologi buatan tangan anak desa yang memanfaatkan rumus fisika murni mampu mengalahkan alat pabrik berharga belasan juta rupiah.Perjuangan panjang itu bermuara pada momen emosional ketika Fajar kembali ke Kampung Muara Banteng. Dengan tuas sakelar yang ia dorong, arus Sungai Cikaso diubah menjadi aliran listrik, menyalakan lampu pijar pertama di rumah ibunya sekaligus mengusir gulita yang selama puluhan tahun menyelimuti tanah kelahirannya.
Sinopsis
Buku Novel “Mengejar Cahaya Dibalik Batasan“ Menceritakan kisah kehidupan seorang anak desa mewakali jutaan anak di seluruh pelosok negeri yang terus berjuang di tengah keterbatasan ekonomi. Melalui perjalanan karakter Fajar, pesan yang ingin di sampaikan kemiskinan bukan identitas. Kemiskinan adalah kondisi finansial, bukan batas kemampuan berpikir atau bermimpi. Nilai dari keterbatasan: Keterbatasan bahan justru melahirkan kreativitas dan ketangguhan yang tidak dimiliki oleh mereka yang serba ada pendidikan sebagai Pintu Gerbang Pengetahuan adalah satu-satunya alat pengungkit paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi “Keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk memenjarakan daya cipta, sekecil apa pun cahaya yang dimiliki seseorang, jika diperjuangkan dengan kejujuran dan keteguhan jiwa, ia sanggup meleburkan gulita sebesar apa pun.” Di Kampung Muara Banteng—sebuah desa pelosok terisolasi yang belum pernah tersentuh aliran listrik—hidup seorang remaja bernama Fajar bersama ibunya yang renta dan sakit-sakitan. Terhimpit oleh kemiskinan dan keterbatasan, Fajar harus belajar di bawah remang asap lampu minyak jelaga sambil memikul impian besar: membawa cahaya terang ke desanya. Demi mengejar cita-citanya, Fajar merantau ke Surabaya untuk bersekolah di SMK Teknik. Di kota besar, perjuangannya tidak makin mudah. Ia harus membagi waktunya antara bertahan hidup sebagai pekerja kasar di garasi kendaraan milik Bang Berto, berburu limbah komponen elektronik bekas di pasar tua, dan menjaga nilai akademiknya demi mempertahankan beasiswa. Ujian terberat menghampirinya ketika sang ibu kritis akibat infeksi berat di desa, tepat menjelang babak penyisihan Lomba Inovasi Teknologi Nasional (LITN). Di tengah keputusasaan, kemiskinan, dan godaan untuk berbuat curang saat menemukan dompet berisi uang jutaan rupiah, kejujuran Fajar diuji dan membawanya pada keajaiban yang menyelamatkan nyawa ibunya. Berbekal kawat tembaga bekas, pipa PVC, alternator truk tronton, dan otak yang tajam, Fajar bersama sahabatnya, Bayu, merakit Turbin Mikrohidro Portabel Pintar (Smart-Pico hydro) dari rongsokan sampah elektronik. Di panggung kompetisi nasional, ia berhasil membuktikan bahwa teknologi buatan tangan anak desa yang memanfaatkan rumus fisika murni mampu mengalahkan alat pabrik berharga belasan juta rupiah.Perjuangan panjang itu bermuara pada momen emosional ketika Fajar kembali ke Kampung Muara Banteng. Dengan tuas sakelar yang ia dorong, arus Sungai Cikaso diubah menjadi aliran listrik, menyalakan lampu pijar pertama di rumah ibunya sekaligus mengusir gulita yang selama puluhan tahun menyelimuti tanah kelahirannya.
Status QRSBN
Nomor QRSBN
62-0081-04134-4
Tanggal Diterima
22 Sep 2026
Tanggal Pengajuan
22 Sep 2026
Status
TervalidasiPenerbit
Nama Penerbit
Penerbit CV. Sahabat Kediri
Lokasi
Kota Kediri, Jawa Timur