Arma, Sang Pengembara Episode 3 Nyanyian Sunyi Burung Paruh Patah
oleh I GUSTI BAGUS DHARMADJAYA, S.Pd.
CV. GRIYA INSAN DIGITAL
Informasi Buku
Judul
Arma, Sang Pengembara Episode 3 Nyanyian Sunyi Burung Paruh Patah
Penulis
I GUSTI BAGUS DHARMADJAYA, S.Pd.
Edisi
Pertama
Tahun Terbit
2026
Bulan Terbit
Juni
Jumlah Halaman
24
Tinggi Buku
21 cm
Kelompok Pembaca
Umum
Jenis Pustaka
Fiksi
Kategori Jenis
Cerpen
Terbitan
CV. GRIYA INSAN DIGITAL
Media
E-book (PDF)
Kategori Buku
Fiksi Reflektif
Klasifikasi DDC
297 — Islam
Provinsi Terbit
Kalimantan Selatan
Kota/Kab Terbit
Kabupaten Banjar
Link Buku
https://anyflip.com/bookcase/twtuu
Subject
Pengembangan Diri/Spritual
Deskripsi / Abstrak
"Jika hatimu telah menemukan muara yang damai, tentang apa lagi kau harus mengembara?" Setelah selesai dengan urusan dunianya dan memeluk keyakinan yang haqqul yakin, langkah kaki Arma kini membawa jiwanya naik ke tingkatan (maqam) yang lebih tinggi. Ia tidak lagi berjalan untuk mencari air bagi dahaganya sendiri, melainkan ditakdirkan menjadi perantara bagi mengalirnya mata air kehidupan bagi jiwa-jiwa yang sedang sekarat kehausan. Di puncak cadas tertinggi yang dikenal sebagai Ujung Ratapan, Arma dipertemukan dengan seorang pemuda yang berada di ambang maut, meratapi nasibnya seperti seekor burung dengan paruh yang patah. Kehilangan jabatan, pengkhianatan, dan runtuhnya standar dunia telah membuat pemuda itu kehilangan alasan untuk tetap hidup. Buku ketiga dari seri Arma, Sang Pengembara ini adalah sebuah mahakarya literasi kontemplatif yang dibalut untaian bait-bait puisi yang menghujam dalam. Melalui dialog batin yang magis di tepi jurang keputusasaan, penulis mengajak kita semua untuk membedah hakikat sebuah luka, memahami rahasia hidayah, dan berani mengambil keputusan paling radikal dalam hidup: log off dari sistem penilaian manusia yang semu. Sebuah buku yang wajib dibaca oleh siapa saja yang hatinya sedang lelah, yang sayap jiwanya sedang terluka, dan yang sedang merindukan melodi kedamaian untuk pulang ke dalam palung suci hati nurani.
Sinopsis
Pengembaraan Arma tiba di sebuah persimpangan spiritual yang ekstrem. Di atas tebing curam berselimut kabut tajam, ia tidak lagi berhadapan dengan sunyinya alam, melainkan dengan pekatnya keputusasaan seorang pemuda. Pemuda itu mengutuk takdirnya, merasa dirinya tak lebih dari seekor burung dengan paruh yang patah, tak lagi bisa bernyanyi, tak lagi mampu mengepakkan sayap, dan tak lagi bernilai di mata dunia. Di batas hidup dan mati itulah, Arma hadir membawa keteduhan sebuah hati yang telah selesai dengan dunia. Tanpa menghakimi, Arma merajut dialog puitis yang membongkar rahasia di balik runtuhnya kemapanan. Melalui untaian bait refleksi yang mendalam, Arma menuntunnya untuk melihat bahwa paruh yang patah sering kali merupakan bentuk kasih sayang tertinggi dari Sang Pencipta, sebuah cara paksa agar manusia berhenti terbang menuju arah yang salah. "Nyanyian Sunyi Burung Paruh Patah" adalah sebuah cerpen reflektif tentang kekuatan melepaskan ego, keindahan dari sebuah kesempatan baru, dan bagaimana sebuah reruntuhan hidup justru bisa melahirkan nyanyian zikir yang paling merdu di hadapan Sang Khalik.
Status QRSBN
Nomor QRSBN
62-0321-03522-1
Tanggal Diterima
16 Jun 2026
Tanggal Pengajuan
16 Jun 2026
Status
TervalidasiPenerbit
Nama Penerbit
CV. GRIYA INSAN DIGITAL
Lokasi
Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan