TEGUH DALAM BADAI
oleh Pdt.Remanto Tumanggor, MTh
THEOVERRABOOKS
Informasi Buku
Judul
TEGUH DALAM BADAI
Penulis
Pdt.Remanto Tumanggor, MTh
Edisi
Cetakan 1
Tahun Terbit
2026
Bulan Terbit
September
Jumlah Halaman
139
Tinggi Buku
21 cm
Kelompok Pembaca
Dewasa
Jenis Pustaka
Non-Fiksi
Kategori Jenis
Buku Agama
Terbitan
THEOVERRABOOKS
Media
E-book (PDF)
Kategori Buku
E-book Kristiani
Klasifikasi DDC
230 — Teologi Doktrinal Kristen
Provinsi Terbit
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Kota/Kab Terbit
Kota Administrasi Jakarta Barat
Link Buku
https://sites.google.com/view/remantobooks/e-book_1
Subject
50 Topik yang Disusun secara Reflektif dan Aplikatif
Deskripsi / Abstrak
TEGUH DALAM BADAI 50 Topik yang Disusun secara Reflektif dan Aplikatif Rp39.000 | 14×21 cm | 139 halaman Kehidupan tidak selalu berjalan dalam keadaan tenang. Ada masa ketika manusia menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba, kehilangan yang tidak diharapkan, kegagalan, konflik, ketidakpastian, kesepian, maupun pergumulan yang berlangsung cukup panjang. Dalam keadaan seperti itu, manusia sering bertanya: bagaimana tetap berdiri ketika keadaan di sekeliling terasa seperti badai? TEGUH DALAM BADAI menghadirkan 50 topik reflektif dan aplikatif yang mengajak pembaca melihat berbagai badai kehidupan melalui perspektif iman. Badai dalam buku ini bukan hanya gambaran tentang penderitaan, tetapi juga metafora bagi berbagai keadaan yang menguji ketahanan, kedewasaan, keberanian, dan kepercayaan manusia kepada Tuhan. Setiap topik membawa pembaca untuk berhenti sejenak dan melihat kembali pengalaman hidupnya. Ada pembahasan mengenai ketakutan, kecemasan, kegagalan, penolakan, kesendirian, kehilangan, penantian, perubahan, tekanan hidup, konflik, dan berbagai keadaan yang dapat membuat seseorang merasa kehilangan arah. Refleksi tersebut kemudian diarahkan kepada bagaimana seseorang dapat merespons keadaan dengan iman dan hikmat. Buku ini tidak memberikan kesan bahwa orang beriman akan terbebas dari badai kehidupan. Sebaliknya, iman justru dibicarakan sebagai kekuatan untuk menghadapi kenyataan dengan jujur tanpa kehilangan pengharapan. Keteguhan bukan berarti tidak pernah takut, menangis, atau merasa lemah. Keteguhan berarti tetap memilih untuk percaya, bertahan, dan melangkah meskipun keadaan belum berubah seperti yang diharapkan. Dalam perspektif Kristiani, perhatian diarahkan kepada penyertaan Allah di tengah pergumulan manusia. Keselamatan dan penyertaan Tuhan tidak selalu berarti bahwa setiap badai segera berhenti. Ada kalanya Tuhan memberi jalan keluar, tetapi ada pula saat ketika manusia harus menjalani sebuah proses dengan kesabaran, keberanian, doa, dan dukungan komunitas iman. Karena itu, pengharapan tidak semata-mata bergantung pada perubahan keadaan, tetapi pada kepercayaan kepada Allah. Lima puluh topik dalam buku ini disusun secara reflektif sekaligus aplikatif. Pembaca tidak hanya diajak bertanya tentang apa yang sedang terjadi dalam hidupnya, tetapi juga bagaimana seharusnya ia bersikap. Setiap pergumulan dapat menjadi kesempatan untuk belajar mengenal diri, memperkuat karakter, memperdalam iman, membangun relasi yang sehat, dan menemukan kembali arah kehidupan. Buku ini dapat menjadi bahan renungan pribadi, pendampingan pastoral, pembinaan jemaat, bahan khotbah, maupun bacaan bagi siapa saja yang sedang melewati masa sulit. Topik-topiknya dapat dibaca secara berurutan ataupun dipilih sesuai dengan pergumulan yang sedang dihadapi. Pada akhirnya, TEGUH DALAM BADAI mengingatkan bahwa kekuatan manusia memiliki batas. Namun keterbatasan bukan berarti akhir dari perjalanan. Ada saatnya manusia perlu berhenti mengandalkan kekuatannya sendiri, belajar menerima pertolongan, berdoa, dan menyerahkan apa yang tidak dapat dikendalikannya kepada Tuhan. Keteguhan iman bukan berarti hidup tanpa badai, melainkan tetap memiliki arah ketika badai sedang menerpa.
Sinopsis
TEGUH DALAM BADAI 50 Topik yang Disusun secara Reflektif dan Aplikatif Setiap orang memiliki badai dalam kehidupannya. Ada badai yang terlihat oleh orang lain, tetapi ada pula badai yang hanya diketahui oleh diri sendiri. Senyum dapat menyembunyikan kegelisahan, kesibukan dapat menutupi kelelahan, dan ketenangan di luar belum tentu menunjukkan ketenangan di dalam hati. Karena itu, menghadapi badai kehidupan membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan fisik; manusia membutuhkan ketahanan batin, hikmat, iman, dan pengharapan. TEGUH DALAM BADAI membawa pembaca memasuki 50 topik yang berangkat dari berbagai pengalaman nyata manusia. Ketakutan, kegagalan, kehilangan, penolakan, kesepian, tekanan, perubahan, penantian, konflik, dan ketidakpastian menjadi bagian dari perjalanan refleksi. Setiap keadaan dipandang bukan sekadar sebagai masalah yang harus segera dihilangkan, tetapi juga sebagai pengalaman yang dapat mengajarkan sesuatu tentang kehidupan dan iman. Salah satu pesan penting buku ini adalah bahwa keteguhan tidak sama dengan tidak adanya kelemahan. Orang yang teguh bukanlah orang yang tidak pernah menangis atau merasa takut. Ia adalah orang yang menyadari kelemahannya, tetapi tidak membiarkan kelemahan tersebut menentukan seluruh arah hidupnya. Ia belajar untuk bangkit, meminta pertolongan, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan terus melangkah. Buku ini juga mengajak pembaca membedakan antara hal-hal yang dapat dikendalikan dan hal-hal yang harus diterima dengan iman. Manusia dapat memilih sikap, perkataan, tindakan, dan cara merespons suatu keadaan. Namun manusia tidak selalu dapat mengendalikan keputusan orang lain, perubahan masa depan, kehilangan, atau berbagai peristiwa yang berada di luar kekuasaannya. Kesadaran ini dapat menolong seseorang menjalani kehidupan dengan lebih realistis dan tidak terus-menerus dibebani oleh sesuatu yang tidak dapat dikendalikannya. Dalam perjalanan refleksi, doa dan pengharapan mendapatkan tempat penting. Doa bukan sekadar cara meminta agar badai segera berhenti, tetapi juga ruang untuk membawa ketakutan, pertanyaan, kemarahan, dan harapan kepada Tuhan. Melalui doa, manusia belajar bahwa ia tidak harus menghadapi seluruh pergumulannya seorang diri. Lima puluh topik dalam buku ini juga memberikan ruang untuk melihat badai sebagai bagian dari proses pembentukan karakter. Kesulitan dapat mengajar manusia tentang kesabaran; kegagalan dapat membuka kesempatan untuk belajar; kehilangan dapat mengajarkan penerimaan; kritik dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri; dan penantian dapat membentuk kedewasaan. Namun semua itu tidak berarti penderitaan harus dicari atau dianggap selalu baik. Yang ditekankan adalah bagaimana manusia merespons keadaan sulit secara bijaksana dan beriman. Buku ini juga menempatkan komunitas sebagai bagian penting dalam menghadapi badai. Tidak semua pergumulan harus dipikul sendirian. Keluarga, sahabat, gereja, dan orang-orang yang dapat dipercaya dapat menjadi ruang untuk berbagi, mendengar, mendoakan, dan memberikan dukungan. Keteguhan sering kali bertumbuh bukan hanya melalui kekuatan pribadi, tetapi juga melalui kehadiran orang lain. Pada akhirnya, TEGUH DALAM BADAI mengarahkan pembaca kepada sebuah keyakinan bahwa badai bukanlah seluruh cerita kehidupan. Ada kehidupan setelah badai, ada pembelajaran setelah pergumulan, dan ada harapan yang dapat ditemukan bahkan ketika jalan di depan belum terlihat dengan jelas. Badai mungkin menguji perjalanan, tetapi badai tidak harus menentukan tujuan. Dengan iman, hikmat, dan pengharapan, manusia dapat tetap melangkah sampai menemukan kembali terang di hadapan Tuhan.
Status QRSBN
Nomor QRSBN
62-0430-04096-8
Tanggal Diterima
16 Sep 2026
Tanggal Pengajuan
16 Sep 2026
Status
TervalidasiPenerbit
Nama Penerbit
THEOVERRABOOKS
Lokasi
Kota Administrasi Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta