SPIRITULITAS KRISTEN DI ERA DIGITAL
oleh Pdt.Remanto Tumanggor, MTh
THEOVERRABOOKS
Informasi Buku
Judul
SPIRITULITAS KRISTEN DI ERA DIGITAL
Penulis
Pdt.Remanto Tumanggor, MTh
Edisi
Cetakan 1
Tahun Terbit
2026
Bulan Terbit
Agustus
Jumlah Halaman
205
Tinggi Buku
21 cm
Kelompok Pembaca
Dewasa
Jenis Pustaka
Non-Fiksi
Kategori Jenis
Buku Agama
Terbitan
THEOVERRABOOKS
Media
E-book (PDF)
Kategori Buku
E-book Kristiani
Klasifikasi DDC
230 — Teologi Doktrinal Kristen
Provinsi Terbit
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Kota/Kab Terbit
Kota Administrasi Jakarta Barat
Link Buku
https://sites.google.com/view/remantobooks/e-book_1
Subject
Buku ini menegaskan bahwa hidup beriman di era digital bukanlah upaya melarikan diri dari teknologi, melainkan memaknai kehadiran Allah secara utuh di tengah dunia yang berubah cepat.
Deskripsi / Abstrak
SPIRITUALITAS KRISTEN DI ERA DIGITAL merupakan sebuah refleksi teologis dan praktis mengenai bagaimana kehidupan iman dapat dihayati di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin memengaruhi cara manusia berpikir, berkomunikasi, bekerja, belajar, membangun relasi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Era digital telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Informasi bergerak dalam hitungan detik, komunikasi dapat berlangsung tanpa batas geografis, dan ruang perjumpaan manusia tidak lagi hanya berada di tempat fisik. Media sosial, mesin pencari, platform digital, kecerdasan artifisial, video, dan berbagai aplikasi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Perubahan tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan penting bagi kehidupan Kristen: bagaimana iman, spiritualitas, dan kehidupan bergereja harus merespons dunia digital? Buku ini menegaskan bahwa hidup beriman di era digital bukanlah upaya melarikan diri dari teknologi, melainkan memaknai kehadiran Allah secara utuh di tengah dunia yang berubah cepat. Teknologi pada dirinya sendiri bukanlah tujuan akhir dan bukan pula pengganti Allah. Teknologi merupakan sarana yang dapat digunakan untuk kebaikan, tetapi juga dapat membawa manusia kepada berbagai persoalan apabila digunakan tanpa kebijaksanaan, tanggung jawab, dan pengendalian diri. Spiritualitas Kristen dalam konteks digital karena itu tidak hanya berbicara tentang seberapa sering seseorang menggunakan aplikasi rohani, mengikuti ibadah daring, membaca Alkitab melalui perangkat digital, atau membagikan ayat di media sosial. Spiritualitas juga menyangkut bagaimana seseorang menjaga hati, pikiran, perkataan, waktu, perhatian, dan relasinya ketika berada di ruang digital. Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa ruang digital juga merupakan ruang moral. Di dalamnya manusia dapat membangun persahabatan sekaligus menciptakan permusuhan, menyebarkan kebenaran sekaligus menyebarkan informasi yang keliru, memberikan penghiburan sekaligus melukai orang lain, membangun komunitas sekaligus mengalami keterasingan. Karena itu, karakter Kristen tetap diperlukan ketika seseorang berada di balik layar. Berbagai tema dibahas secara reflektif, antara lain identitas digital, penggunaan media sosial, budaya informasi, keheningan, perhatian, kecanduan teknologi, relasi manusia, etika komunikasi, privasi, kebenaran, berita palsu, kecerdasan artifisial, pelayanan gereja, ibadah daring, komunitas iman, kepemimpinan, keluarga, generasi muda, serta panggilan Kristen dalam masyarakat digital. Buku ini tidak mengajak pembaca menjadi anti-teknologi, tetapi juga tidak mendorong penerimaan teknologi secara tanpa kritis. Yang ditawarkan adalah sebuah spiritualitas yang memiliki discernment, yaitu kemampuan untuk membedakan mana yang membangun dan mana yang merusak, mana yang memperkuat relasi dan mana yang menjauhkan manusia, mana yang menolong kehidupan dan mana yang perlahan mengambil alih kehidupan. Pada akhirnya, tantangan terbesar era digital bukan sekadar bagaimana manusia menguasai teknologi, tetapi bagaimana manusia tetap menjadi manusia yang berkarakter di tengah teknologi yang semakin kuat. Bagi orang percaya, pertanyaannya menjadi lebih dalam: apakah teknologi membuat kita semakin mampu mengasihi, melayani, berkata benar, mengampuni, dan menghadirkan damai? Spiritualitas Kristen di era digital adalah panggilan untuk menghadirkan iman bukan hanya ketika berada di dalam gereja, tetapi juga ketika berada di depan layar, di dalam percakapan digital, dan di tengah dunia yang terus berubah.
Sinopsis
Kita hidup dalam sebuah zaman ketika layar menjadi bagian dari kehidupan. Kita bangun dengan notifikasi, berkomunikasi melalui pesan singkat, mencari informasi melalui mesin pencari, mengikuti berita melalui media sosial, bekerja menggunakan platform digital, bahkan dapat beribadah dan belajar iman melalui perangkat yang berada di tangan kita. Dunia digital bukan lagi sekadar alat tambahan dalam kehidupan manusia; bagi banyak orang, dunia digital telah menjadi salah satu ruang utama tempat kehidupan berlangsung. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana seorang Kristen menjalani kehidupan rohaninya? Apakah spiritualitas harus menjauh dari teknologi? Ataukah gereja harus menerima seluruh perkembangan digital tanpa kritik? SPIRITUALITAS KRISTEN DI ERA DIGITAL mengajak pembaca menemukan jalan reflektif di antara kedua ekstrem tersebut. Buku ini berangkat dari kesadaran bahwa teknologi tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kehidupan manusia modern. Karena itu, persoalan spiritualitas bukan hanya persoalan apakah seseorang menggunakan teknologi, tetapi bagaimana teknologi digunakan dan manusia seperti apa yang dibentuk oleh penggunaannya. Perangkat yang sama dapat menjadi sarana pelayanan, pendidikan, komunikasi, dan penghiburan, tetapi juga dapat menjadi sumber distraksi, konflik, kecanduan, manipulasi, dan keterasingan. Pembaca diajak merenungkan identitas diri di tengah budaya digital. Di media sosial, manusia sering membangun citra tertentu tentang dirinya. Apa yang ditampilkan belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan. Di sinilah iman mengingatkan bahwa nilai diri manusia tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, tanda suka, komentar, popularitas, atau pengakuan digital. Identitas Kristen berakar lebih dalam daripada citra yang dibangun di hadapan publik. Buku ini juga membahas persoalan keheningan dan perhatian. Dunia digital sering membuat manusia terus terhubung dengan informasi, tetapi belum tentu semakin terhubung dengan dirinya sendiri, sesamanya, dan Tuhan. Banyak suara dapat memenuhi pikiran, tetapi hati tetap mengalami kekosongan. Karena itu, spiritualitas membutuhkan kemampuan untuk berhenti, diam, mendengar, merenung, dan memberi ruang bagi Allah bekerja dalam kehidupan. Dalam kehidupan sosial, ruang digital juga membutuhkan etika Kristen. Perkataan yang diketik dengan cepat dapat melukai seseorang dalam waktu yang panjang. Informasi yang belum diperiksa dapat menyebar kepada ribuan orang. Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi pertengkaran. Karena itu, kasih, kebenaran, penguasaan diri, kerendahan hati, dan tanggung jawab tetap menjadi nilai penting dalam komunikasi digital. Perkembangan kecerdasan artifisial dan teknologi digital juga membuka pertanyaan baru mengenai manusia, kreativitas, pekerjaan, pengetahuan, tanggung jawab, dan masa depan. Buku ini mengajak pembaca tidak hanya bertanya, “Apa yang dapat dilakukan teknologi?”, tetapi juga, “Apa yang seharusnya dilakukan manusia?” Pertanyaan etis tersebut penting agar kemajuan teknologi tetap ditempatkan dalam kerangka penghormatan terhadap martabat manusia dan tanggung jawab terhadap sesama. Bagi gereja, era digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Pelayanan dapat menjangkau orang yang lebih luas, pembelajaran iman dapat berlangsung melalui berbagai media, dan komunitas dapat terhubung melampaui batas geografis. Namun, gereja juga perlu mempertanyakan kualitas relasi, kedalaman pembinaan iman, kehadiran pastoral, dan makna komunitas ketika sebagian interaksi berlangsung secara digital. Buku ini pada akhirnya mengajak pembaca membangun sebuah spiritualitas yang tidak takut terhadap perubahan, tetapi juga tidak kehilangan daya kritis terhadap perubahan. Orang Kristen dipanggil untuk menggunakan teknologi tanpa diperbudak olehnya, memanfaatkan media tanpa kehilangan keheningan, berkomunikasi tanpa kehilangan kasih, mencari informasi tanpa kehilangan hikmat, dan memasuki dunia digital tanpa kehilangan arah iman. Di tengah dunia yang semakin terkoneksi, panggilan Kristen bukan sekadar untuk selalu terhubung dengan jaringan, tetapi untuk tetap terhubung dengan Allah, sesama, kebenaran, dan panggilan hidup yang diberikan Tuhan.
Status QRSBN
Nomor QRSBN
62-0430-04103-0
Tanggal Diterima
17 Sep 2026
Tanggal Pengajuan
17 Sep 2026
Status
TervalidasiPenerbit
Nama Penerbit
THEOVERRABOOKS
Lokasi
Kota Administrasi Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta