PENGAJARAN IMAN DI TENGAH KELUARGA
oleh Pdt.Remanto Tumanggor, MTh
THEOVERRABOOKS
Informasi Buku
Judul
PENGAJARAN IMAN DI TENGAH KELUARGA
Penulis
Pdt.Remanto Tumanggor, MTh
Edisi
Cetakan 1
Tahun Terbit
2026
Bulan Terbit
Agustus
Jumlah Halaman
159
Tinggi Buku
21 cm
Kelompok Pembaca
Orang Tua
Jenis Pustaka
Non-Fiksi
Kategori Jenis
Buku Agama
Terbitan
THEOVERRABOOKS
Media
E-book (PDF)
Kategori Buku
E-book Kristiani
Klasifikasi DDC
230 — Teologi Doktrinal Kristen
Provinsi Terbit
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Kota/Kab Terbit
Kota Administrasi Jakarta Barat
Link Buku
https://sites.google.com/view/remantobooks/e-book_1
Subject
Peran keluarga sebagai sekolah iman pertama
Deskripsi / Abstrak
PENGAJARAN IMAN DI TENGAH KELUARGA Peran Keluarga sebagai Sekolah Iman Pertama Keluarga merupakan ruang pertama tempat seseorang mengenal kasih, nilai kehidupan, tanggung jawab, dan iman. Sebelum seorang anak mengenal gereja, sekolah, atau berbagai lingkungan sosial lainnya, keluarga telah menjadi tempat pertama di mana ia belajar melalui perkataan, tindakan, kebiasaan, teladan, dan relasi sehari-hari. Karena itu, pengajaran iman tidak hanya berlangsung melalui kegiatan gerejawi, tetapi juga melalui kehidupan keluarga yang dihidupi setiap hari. Buku Pengajaran Iman di Tengah Keluarga mengajak pembaca memahami kembali pentingnya keluarga sebagai sekolah iman pertama. Iman tidak cukup hanya diajarkan sebagai pengetahuan tentang Alkitab, tetapi perlu diterjemahkan menjadi sikap, karakter, kebiasaan, dan cara hidup. Anak belajar mengenal Tuhan bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari bagaimana kasih, pengampunan, kejujuran, doa, tanggung jawab, dan kepedulian diwujudkan dalam kehidupan keluarga. Pembahasan buku ini menempatkan orang tua sebagai bagian penting dalam proses pembentukan iman anak. Peran tersebut bukan berarti orang tua harus menjadi guru agama dalam pengertian formal, melainkan menjadi teladan iman dalam kehidupan nyata. Percakapan sederhana, doa bersama, pembacaan Alkitab, cara menghadapi konflik, cara memperlakukan anggota keluarga, serta keberanian meminta maaf dapat menjadi sarana pengajaran iman yang sangat bermakna. Di tengah perubahan zaman, keluarga menghadapi berbagai tantangan baru. Perkembangan teknologi digital, media sosial, kesibukan pekerjaan, perubahan pola komunikasi, serta beragam pengaruh budaya membuat proses pendidikan iman tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada gereja atau lembaga pendidikan. Keluarga perlu membangun kembali ruang dialog agar iman dapat dibicarakan, dipertanyakan, dipahami, dan dihidupi secara nyata. Buku ini juga mengajak keluarga melihat bahwa pengajaran iman tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal. Meja makan, perjalanan bersama, waktu istirahat, percakapan sebelum tidur, bahkan pengalaman menghadapi masalah dapat menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai iman. Dengan demikian, kehidupan sehari-hari menjadi ruang pedagogis tempat iman bertumbuh secara alami. Pada akhirnya, Pengajaran Iman di Tengah Keluarga bukan sekadar membahas bagaimana mengajarkan agama kepada anak, tetapi mengajak seluruh anggota keluarga membangun kehidupan yang menjadikan iman sebagai dasar relasi dan keputusan sehari-hari. Keluarga dipanggil menjadi komunitas kecil tempat kasih Allah dikenali, firman dipelajari, karakter dibentuk, dan iman diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Sinopsis
PENGAJARAN IMAN DI TENGAH KELUARGA Peran Keluarga sebagai Sekolah Iman Pertama Setiap keluarga sebenarnya adalah sebuah ruang pendidikan. Di dalam keluarga, seorang anak pertama kali belajar berbicara, mempercayai orang lain, membedakan yang baik dan yang buruk, memahami kasih, menghadapi konflik, serta membentuk cara memandang dirinya dan dunia. Karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan iman seseorang. Buku ini dimulai dari kesadaran bahwa pengajaran iman tidak boleh hanya dipahami sebagai tugas gereja, sekolah minggu, guru agama, atau pendeta. Keluarga mempunyai tanggung jawab yang tidak dapat digantikan. Orang tua dan anggota keluarga lainnya menjadi pendidik iman melalui kehidupan sehari-hari. Apa yang dilakukan di rumah sering kali memberikan kesan yang lebih mendalam daripada sekadar nasihat yang disampaikan dengan kata-kata. Pembaca diajak memahami bahwa keteladanan merupakan salah satu bentuk pengajaran iman yang paling nyata. Anak dapat belajar tentang kasih ketika melihat keluarganya saling memperhatikan. Anak belajar tentang pengampunan ketika orang tua berani meminta maaf. Anak belajar tentang kejujuran ketika melihat orang dewasa hidup tanpa kepura-puraan. Dengan demikian, iman menjadi sesuatu yang dapat dilihat dan dialami, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan. Selanjutnya, buku ini membahas berbagai bentuk praktik sederhana yang dapat dilakukan keluarga dalam membangun kehidupan iman. Doa bersama, membaca dan membicarakan Alkitab, makan bersama, berbagi pengalaman, berdialog tentang persoalan kehidupan, serta memberikan ruang kepada anak untuk bertanya menjadi bagian dari proses pendidikan iman. Hal-hal sederhana tersebut dapat membentuk suasana rumah sebagai komunitas iman. Perhatian khusus juga diberikan kepada tantangan keluarga pada zaman digital. Anak-anak dan orang dewasa hidup dalam lingkungan yang dipenuhi informasi, gambar, video, media sosial, dan berbagai nilai yang masuk ke dalam rumah tanpa batas. Karena itu, pendidikan iman perlu membentuk kemampuan untuk memilih, menilai, dan menyikapi berbagai informasi berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Teknologi tidak harus menjadi musuh keluarga, tetapi perlu digunakan secara bijaksana dan bertanggung jawab. Buku ini juga mengajak pembaca melihat bahwa konflik dan persoalan keluarga dapat menjadi kesempatan untuk belajar iman. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, kegagalan, penderitaan, kehilangan, dan berbagai pergumulan tidak selalu harus dipandang sebagai penghalang pertumbuhan iman. Dengan pendampingan yang tepat, pengalaman tersebut dapat menjadi ruang untuk belajar tentang kesabaran, pengampunan, pengharapan, tanggung jawab, dan penyertaan Tuhan. Pada akhirnya, Pengajaran Iman di Tengah Keluarga mengarahkan pembaca kepada sebuah pemahaman bahwa keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama, tetapi juga tempat iman diwariskan dan dibentuk. Ketika keluarga menjadi ruang yang menghadirkan kasih, firman, doa, keteladanan, dialog, dan pengampunan, rumah dapat menjadi tempat pertama di mana seseorang mengalami bahwa iman bukan sekadar ajaran, melainkan jalan hidup yang nyata.
Status QRSBN
Nomor QRSBN
62-0430-04110-6
Tanggal Diterima
17 Sep 2026
Tanggal Pengajuan
17 Sep 2026
Status
TervalidasiPenerbit
Nama Penerbit
THEOVERRABOOKS
Lokasi
Kota Administrasi Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta