Ayah, Anakmu Membutuhkanmu: Menjadi Ayah Qur’ani di Tengah Fenomena Fatherless
by Luqiya Miftahur Rohmah, S.Pd., M.Pd.,; Dr. Fathi Hidayah, M.Pd.I.; Dr. Akhmad Rudi Maswanto, M.HI.;
CV Cahaya Teratai Publishing
Book Information
Title
Ayah, Anakmu Membutuhkanmu: Menjadi Ayah Qur’ani di Tengah Fenomena Fatherless
Author
Luqiya Miftahur Rohmah, S.Pd., M.Pd.,; Dr. Fathi Hidayah, M.Pd.I.; Dr. Akhmad Rudi Maswanto, M.HI.;
Edition
Cetakan 1 Edisi 1
Publication Year
2026
Publication Month
Oktober
Number of Pages
142
Book Height
21 cm cm
Reader Group
Umum
Library Type
Buku Keagamaan
Genre Category
Buku Agama
Publication
CV Cahaya Teratai Publishing
Media
Buku
Book Category
Ayah, Anakmu Membutuhkanmu: Menjadi Ayah Qur’ani
DDC Classification
200 — Agama
Publication Province
Jawa Timur
Publication City/District
Kabupaten Banyuwangi
Distributor
CAHAYA TERATAI STORE
Book Link
https://cahayateratai.com/product/ayah-anakmu-membutuhkanmu-menjadi-ayah-qurani-di-tengah-fenomena-fatherless/
Subject
Ayah, Anakmu Membutuhkanmu: Menjadi Ayah Qur’ani di Tengah Fenomena Fatherless
Description / Abstract
Ada masa ketika sosok ayah menjadi pusat dunia seorang anak: tangan yang ingin digenggam, kepulangan yang ditunggu, dan tempat bertanya ketika dunia belum sepenuhnya dipahami. Anak kemudian tumbuh. Pertanyaannya berubah, pergaulannya meluas, pilihannya semakin banyak, dan persoalannya semakin kompleks. Pada tahap itu, anak tetap membutuhkan ayah, tetapi dalam bentuk yang berbeda: seseorang yang dapat dipercaya untuk mendengar, memberi arah, dan menjadi tempat mencari pertimbangan. Menjadi ayah bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan materi. Nafkah memang bagian penting dari tanggung jawab keluarga. Namun, anak juga membutuhkan waktu, komunikasi, arahan, perlindungan, pendidikan agama, dan keteladanan. Semua itu tidak dapat digantikan oleh materi. Karena itu, ayah dapat hadir secara fisik tetapi tetap jauh dari kehidupan anak. Ia mungkin mengetahui biaya sekolah dan nilai rapor, tetapi tidak mengetahui kegelisahan, persoalan, atau hal yang sedang diperjuangkan anaknya. Inilah yang membuat fatherless tidak selalu berarti kehilangan ayah secara fisik. Fatherless juga dapat muncul ketika fungsi pengasuhan, pendidikan, komunikasi, perlindungan, dan keteladanan ayah tidak hadir sebagaimana yang dibutuhkan anak. Kesibukan pekerjaan, tuntutan ekonomi, perkembangan teknologi, dan aktivitas lainnya dapat memperlebar jarak tersebut. Padahal, pertumbuhan anak tidak menunggu kesiapan orang tua. Anak yang dahulu membutuhkan bantuan untuk hal-hal sederhana akan tumbuh menjadi pribadi yang menghadapi persoalan tentang pertemanan, harga diri, kegagalan, keyakinan, dan pilihan hidup. Karena itu, hubungan perlu dibangun sejak awal, sebelum anak menghadapi persoalan-persoalan tersebut. Al-Qur’an memberikan gambaran tentang hubungan ayah dan anak melalui kisah Luqman, Ibrahim dan Ismail, Ya’qub dan Yusuf, serta ayah dalam kisah Surah Al-Kahfi. Di dalamnya, ayah tampil sebagai sosok yang mendidik melalui percakapan, nasihat, keteladanan, perhatian, dan perlindungan. Luqman mengajarkan tauhid, ibadah, kesabaran, kepedulian terhadap kebaikan, dan akhlak. Ibrahim berdialog dengan Ismail ketika menghadapi ujian ketaatan. Ya’qub memperhatikan keadaan Yusuf dan anak-anaknya. Dalam Surah Al-Kahfi, kesalehan seorang ayah dikaitkan dengan penjagaan terhadap masa depan anak-anaknya. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan anak tidak hanya berlangsung melalui pelajaran formal. Ia juga terbentuk dari kehidupan sehari-hari: percakapan di rumah, ibadah bersama, cara ayah menghadapi masalah, cara memperlakukan istri, kesediaan meminta maaf, dan sikap ketika berhadapan dengan kesalahan. Anak belajar dari apa yang dilakukan ayah, termasuk ketika ayah tidak sedang bermaksud mengajar. Tentu, tidak semua ayah memulai dari keadaan yang sama. Ada yang memiliki hubungan dekat dengan anak, ada yang sedang memperbaiki hubungan yang renggang, dan ada yang baru menyadari bahwa kesibukan telah membuatnya terlalu jauh. Ayah juga dapat lelah dan melakukan kesalahan. Sebagian bahkan tumbuh tanpa teladan pengasuhan yang memadai. Karena itu, menjadi ayah adalah proses belajar. Yang dibutuhkan anak bukan ayah yang tidak pernah salah, melainkan ayah yang bersedia memperbaiki kesalahan, mendekat ketika hubungan mulai berjarak, mendengar sebelum menilai, dan menegur tanpa merendahkan. Buku ini membahas peran ayah dalam pendidikan anak berdasarkan perspektif Al-Qur’an dan menghubungkannya dengan fenomena fatherless. Pembahasannya ditujukan kepada para ayah, calon ayah, ibu, pendidik, dan siapa pun yang ingin memahami kembali pentingnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak. Ayah, Anakmu Membutuhkanmu: Menjadi Ayah Qur’ani di Tengah Fenomena Fatherless Fatherless bukan hanya tentang anak yang kehilangan sosok ayah secara fisik, melainkan tentang hadirnya ayah yang absen secara emosional, spiritual, dan edukatif. Dalam kondisi demikian, fungsi ayah berisiko menyempit hanya menjadi pencari nafkah, sementara tugas mendidik, membimbing, mendampingi, dan menjadi teladan bagi anak semakin terabaikan. Di tengah perubahan kehidupan keluarga modern, buku ini mengajak pembaca kembali melihat bagaimana Al-Qur'an menggambarkan sosok ayah. Al-Qur'an menghadirkan figur-figur ayah yang sangat relevan untuk dijadikan teladan. Luqman memberikan nasihat kepada anaknya tentang tauhid, ibadah, akhlak, kesabaran, tanggung jawab, dan hubungan sosial. Nabi Ibrahim menunjukkan bagaimana seorang ayah membangun komunikasi dan keteladanan dalam menghadapi ujian besar bersama putranya, Ismail. Kisah Nabi Ya'qub juga memperlihatkan perhatian seorang ayah terhadap perjalanan kehidupan dan masa depan anak. Sementara QS. At-Tahrim ayat 6 menegaskan tanggung jawab menjaga diri dan keluarga dari keburukan.
Synopsis
Ayah, Anakmu Membutuhkanmu: Menjadi Ayah Qur’ani di Tengah Fenomena Fatherless Fatherless bukan hanya tentang anak yang kehilangan sosok ayah secara fisik, melainkan tentang hadirnya ayah yang absen secara emosional, spiritual, dan edukatif. Dalam kondisi demikian, fungsi ayah berisiko menyempit hanya menjadi pencari nafkah, sementara tugas mendidik, membimbing, mendampingi, dan menjadi teladan bagi anak semakin terabaikan. Di tengah perubahan kehidupan keluarga modern, buku ini mengajak pembaca kembali melihat bagaimana Al-Qur'an menggambarkan sosok ayah. Al-Qur'an menghadirkan figur-figur ayah yang sangat relevan untuk dijadikan teladan. Luqman memberikan nasihat kepada anaknya tentang tauhid, ibadah, akhlak, kesabaran, tanggung jawab, dan hubungan sosial. Nabi Ibrahim menunjukkan bagaimana seorang ayah membangun komunikasi dan keteladanan dalam menghadapi ujian besar bersama putranya, Ismail. Kisah Nabi Ya'qub juga memperlihatkan perhatian seorang ayah terhadap perjalanan kehidupan dan masa depan anak. Sementara QS. At-Tahrim ayat 6 menegaskan tanggung jawab menjaga diri dan keluarga dari keburukan.
QRSBN Status
QRSBN Number
62-0336-04230-9
Date Accepted
06 Oct 2026
Submission Date
06 Oct 2026
Status
ValidatedPublisher
Publisher Name
CV Cahaya Teratai Publishing
Location
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur