MUNGKIN DIA JUGA RINDU
oleh ADI IRMAWAN
KAULA MUDA GUNUNGGURUH PUBLISHING
Informasi Buku
Judul
MUNGKIN DIA JUGA RINDU
Penulis
ADI IRMAWAN
Edisi
CETAKAN
Seri
TIDAK ADA
Tahun Terbit
2026
Bulan Terbit
September
Jumlah Halaman
334
Tinggi Buku
21 cm
Kelompok Pembaca
Dewasa
Jenis Pustaka
Fiksi
Kategori Jenis
Buku Teks
Terbitan
KAULA MUDA GUNUNGGURUH PUBLISHING
Media
Buku
Kategori Buku
BUKU NOVEL/FIKSI
Klasifikasi DDC
002 — Buku
Provinsi Terbit
Jawa Barat
Kota/Kab Terbit
Kabupaten Sukabumi
Distributor
KAULA MUDA GUNUNGGURUH PUBLISHING
Link Buku
https://www.instagram.com/kmg_publishing?utm_source=ig_web_button_share_sheet&stkn=ZDNlZDc0MzIxNw==
Subject
Subjek: Hubungan interpersonal / percintaan Tema: Kerinduan, cinta tak berbalas, kehilangan, dan penerimaan.
Deskripsi / Abstrak
**ABSTRAK** *Mungkin Dia Juga Rindu* merupakan novel yang mengangkat kisah tentang perasaan yang tumbuh dari sebuah pertemuan sederhana, kemudian berkembang melalui percakapan, perhatian, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan menciptakan kedekatan. Rendra dan Sekar pertama kali bertemu dalam sebuah perjalanan pendakian Gunung Gede. Tidak ada yang istimewa dari pertemuan itu pada awalnya, tetapi setelah perjalanan berakhir, komunikasi di antara keduanya terus berlangsung hingga menghadirkan ruang yang semakin dekat secara emosional. Perasaan Rendra kepada Sekar tumbuh tanpa pernah benar-benar memiliki kepastian. Keadaan menjadi semakin rumit ketika Rendra mengetahui bahwa Sekar telah memiliki Hisam dalam kehidupannya. Meskipun demikian, Rendra tetap memilih untuk hadir tanpa menuntut sebuah hubungan. Di tengah kedekatan tersebut, ia harus berhadapan dengan kecemburuan, ketidakpastian, keadaan ekonomi, pekerjaan yang belum stabil, serta perasaan bahwa dirinya belum cukup untuk seseorang yang ia sayangi. Perlahan, Rendra menyadari bahwa mempertahankan perasaan tidak selalu berarti mempertahankan seseorang untuk tetap berada di sisinya. Novel ini menggambarkan perjalanan emosional tentang cinta yang tidak menemukan kepastian, kerinduan yang tidak selalu disampaikan, serta proses menerima kehilangan tanpa harus membenci atau menyalahkan siapa pun. Melalui kisah Rendra dan Sekar, *Mungkin Dia Juga Rindu* mengajak pembaca memahami bahwa tidak semua perasaan harus berakhir dengan kepemilikan. Ada perasaan yang cukup dikenang, ada kedekatan yang harus direlakan, dan ada pertanyaan yang mungkin selamanya tidak memperoleh jawaban: apakah seseorang yang kita rindukan juga pernah merindukan kita? **Kata kunci:** cinta, kerinduan, kehilangan, ketidakpastian, penerimaan, hubungan interpersonal.
Sinopsis
**MUNGKIN DIA JUGA RINDU** Rendra tidak pernah menyangka bahwa sebuah nama di dalam daftar peserta pendakian akan menjadi seseorang yang begitu sulit ia lupakan. Sekar, perempuan dari Bandung yang awalnya hanya ia kenal melalui pesan-pesan singkat, akhirnya ia temui di sebuah pagi di basecamp Gunung Gede. Pertemuan mereka sederhana. Tidak ada cinta pada pandangan pertama, tidak ada janji, bahkan tidak ada alasan untuk mengira bahwa perjalanan dua hari itu akan membawa mereka ke sesuatu yang jauh lebih panjang. Namun perjalanan memiliki caranya sendiri untuk mendekatkan manusia. Di antara dinginnya Surya Kencana, jalan turun yang melelahkan, tawa, percakapan kecil, dan perhatian-perhatian sederhana, Rendra dan Sekar perlahan menjadi dekat. Setelah pendakian selesai, hubungan mereka tidak ikut berakhir. Pesan-pesan terus berlanjut. Video call menjadi kebiasaan. Mereka saling bercerita tentang kampus, pekerjaan, keluarga, kesibukan, dan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, tetapi justru membuat seseorang terasa hadir di dalam keseharian. Bagi Rendra, kedekatan itu perlahan berubah menjadi perasaan. Masalahnya, Rendra tidak pernah benar-benar tahu apa arti dirinya bagi Sekar. Sampai suatu hari ia mengetahui sebuah nama yang selama ini tidak pernah benar-benar ia kenal: Hisam. Dari Jamilah, Rendra mengetahui bahwa Hisam bukan sekadar teman, melainkan seseorang yang telah menjadi bagian dari kehidupan Sekar bahkan sebelum mereka bertemu di Gunung Gede. Kenyataan itu membuat Rendra mulai mempertanyakan semua kedekatan yang selama ini ia jalani. Meski begitu, ia tetap bertahan. Rendra akhirnya mengakui perasaannya kepada Sekar, tetapi pengakuan itu tidak serta-merta mengubah keadaan. Sekar tetap memiliki hidupnya sendiri, sementara Rendra harus berhadapan dengan rasa cemburu, ketidakpastian, keadaan ekonomi, pekerjaan yang tidak stabil, serta perasaan tidak cukup yang semakin sering menghantuinya. Ia ingin menjadi seseorang yang pantas berdiri di samping Sekar, tetapi pada saat yang sama ia sendiri masih berusaha menyelesaikan hidupnya. Hubungan mereka pun berjalan di antara dua hal yang sulit dibedakan: kedekatan dan jarak. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata putus. Hanya ada pesan-pesan yang perlahan berubah, percakapan yang semakin jarang, dan perasaan yang semakin sulit dijelaskan. Sampai sebuah malam ketika Rendra mengetahui Sekar pergi bermain badminton tanpa memberitahunya. Luka yang sebenarnya bukan tentang badminton itu kemudian bertemu dengan banyak hal yang selama ini ia pendam. Dalam keadaan penuh, Rendra memilih bermain sepak bola—sesuatu yang selama ini dilarang Sekar karena ia sering mengalami cedera. Malam itu menjadi salah satu titik ketika Rendra akhirnya sadar: yang sedang ia pertahankan bukan hanya Sekar, tetapi juga keinginannya untuk merasa cukup di hadapan seseorang yang ia sayangi. Agustus datang tanpa perpisahan. Mereka masih saling berkabar untuk beberapa waktu, tetapi Rendra mulai memilih diam. Hingga akhirnya pesan-pesan itu berhenti. Tidak ada kalimat terakhir yang dramatis. Tidak ada pintu yang dibanting. Hanya dua orang yang perlahan berhenti mencari satu sama lain. Namun kehilangan tidak selalu berarti berhenti mengingat. Berbulan-bulan kemudian, nama Sekar masih menjadi nama yang dicari Rendra ketika membuka WhatsApp. Ia masih melihat statusnya dari jauh, masih membaca percakapan lama, dan masih bertanya-tanya pada satu hal yang mungkin tidak akan pernah ia ketahui jawabannya: **Apakah Sekar pernah merindukannya juga?** *Mungkin Dia Juga Rindu* adalah kisah tentang perasaan yang tidak pernah benar-benar memiliki nama, tentang seseorang yang datang melalui sebuah perjalanan lalu tinggal jauh lebih lama di dalam ingatan, serta tentang belajar menerima bahwa tidak semua rasa sayang harus berakhir dengan memiliki. Sebab terkadang, seseorang tidak datang untuk tinggal. Ia datang untuk meninggalkan cerita. Dan barangkali, setelah semua yang terjadi, satu-satunya jawaban yang tersisa hanyalah: **Mungkin aku masih rindu. Dan mungkin—kamu juga rindu.**
Status QRSBN
Nomor QRSBN
62-0326-04155-3
Tanggal Diterima
27 Sep 2026
Tanggal Pengajuan
26 Sep 2026
Status
TervalidasiPenerbit
Nama Penerbit
KAULA MUDA GUNUNGGURUH PUBLISHING
Lokasi
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat