Ngajar Sambil Rebahan
oleh Yupianto, S.Pd.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo
Informasi Buku
Judul
Ngajar Sambil Rebahan
Penulis
Yupianto, S.Pd.
Edisi
-
Seri
-
Tahun Terbit
2026
Bulan Terbit
Oktober
Jumlah Halaman
84
Tinggi Buku
14 cm
Kelompok Pembaca
Umum
Jenis Pustaka
Fiksi
Kategori Jenis
Buku Umum
Terbitan
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo
Media
Buku
Kategori Buku
Pendidikan
Klasifikasi DDC
371 — Sekolah dan Kegiatannya
Provinsi Terbit
Jawa Timur
Kota/Kab Terbit
Kota Probolinggo
Distributor
-
Link Buku
https://sites.google.com/admin.smp.belajar.id/ketenagaan/program-kegiatan/penulisan-buku-solo#h.x6vwqquq06x5
Subject
Pendidikan
Deskripsi / Abstrak
Mengajar tak lagi harus berdiri di depan kelas dengan menggunakan spidol di tangan. Ngajar Sambil Rebahan hadir untuk menggugah cara pandang baru tentang profesi guru di era digital. Mengajar bukan soal posisi tubuh, tetapi soal fleksibilitas berpikir, efisiensi energi, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Buku ini dibuka dengan realita guru Gen Z yang capek tetapi dituntut memenuhi berbagai ekspektasi dari banyak pihak. Beban kerja yang berat tetap harus diimbangi dengan pembelajaran terbaik bagi murid. Dari sinilah lahir filosofi "ngajar sambil rebahan" sebagai simbol perubahan paradigma dari metode konvensional menuju cara mengajar yang lebih humanis, adaptif, dan berbasis teknologi. Dari gawai sambil rebahan pun guru tetap bisa menginspirasi tanpa harus terjebak rutinitas yang kaku. Ada istilah "tak kenal maka tak sayang" yang mungkin sering kalian dengar. Istilah tersebut menggambarkan bekal bagi guru sebelum mengajar: guru wajib tahu siapa yang diajarinya. Generasi Z dan Alpha adalah generasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Tumbuh dengan gawai di tangan, mereka memiliki cara belajar yang berbeda namun tetap haus akan makna. Buku ini mengajak guru melihat mereka bukan sebagai tantangan, tetapi sebagai peluang kreativitas. Tidak berhenti pada generasi, buku ini juga mengupas sisi psikologis murid dari perspektif urutan lahir: anak pertama yang perfeksionis, anak kedua yang kreatif dan sensitif, hingga si bungsu yang penuh ide liar. Semuanya memiliki pola belajar dan kebutuhan emosi yang berbeda. Guru diajak menyesuaikan pendekatan agar kelas menjadi ruang tumbuh yang inklusif bagi setiap tipe murid. Pada bagian akhir, buku ini menghadirkan bab reflektif: bagaimana seorang guru bisa tetap tenang di tengah tekanan profesi? Melalui kearifan Stoikisme, guru diajak memahami dikotomi kendali, mengelola emosi, serta menemukan ketenangan dalam kekacauan. Dengan prinsip "memento mori" dan "amor fati", profesi guru menjadi perjalanan penuh makna, bukan hanya rutinitas. Ngajar Sambil Rebahan adalah buku bagi guru yang ingin tetap waras, kreatif, dan relevan di era serbadigital. Sebuah panduan praktis sekaligus renungan mendalam tentang bagaimana mengajar dengan cara baru, hati yang lebih lapang, dan pikiran yang lebih tenang. Buku ini bukan sekadar bacaan, tetapi teman seperjalanan bagi para pendidik masa kini.
Sinopsis
Mengajar tak lagi harus berdiri di depan kelas dengan menggunakan spidol di tangan. Ngajar Sambil Rebahan hadir untuk menggugah cara pandang baru tentang profesi guru di era digital. Mengajar bukan soal posisi tubuh, tetapi soal fleksibilitas berpikir, efisiensi energi, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Buku ini dibuka dengan realita guru Gen Z yang capek tetapi dituntut memenuhi berbagai ekspektasi dari banyak pihak. Beban kerja yang berat tetap harus diimbangi dengan pembelajaran terbaik bagi murid. Dari sinilah lahir filosofi "ngajar sambil rebahan" sebagai simbol perubahan paradigma dari metode konvensional menuju cara mengajar yang lebih humanis, adaptif, dan berbasis teknologi. Dari gawai sambil rebahan pun guru tetap bisa menginspirasi tanpa harus terjebak rutinitas yang kaku. Ada istilah "tak kenal maka tak sayang" yang mungkin sering kalian dengar. Istilah tersebut menggambarkan bekal bagi guru sebelum mengajar: guru wajib tahu siapa yang diajarinya. Generasi Z dan Alpha adalah generasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Tumbuh dengan gawai di tangan, mereka memiliki cara belajar yang berbeda namun tetap haus akan makna. Buku ini mengajak guru melihat mereka bukan sebagai tantangan, tetapi sebagai peluang kreativitas. Tidak berhenti pada generasi, buku ini juga mengupas sisi psikologis murid dari perspektif urutan lahir: anak pertama yang perfeksionis, anak kedua yang kreatif dan sensitif, hingga si bungsu yang penuh ide liar. Semuanya memiliki pola belajar dan kebutuhan emosi yang berbeda. Guru diajak menyesuaikan pendekatan agar kelas menjadi ruang tumbuh yang inklusif bagi setiap tipe murid. Pada bagian akhir, buku ini menghadirkan bab reflektif: bagaimana seorang guru bisa tetap tenang di tengah tekanan profesi? Melalui kearifan Stoikisme, guru diajak memahami dikotomi kendali, mengelola emosi, serta menemukan ketenangan dalam kekacauan. Dengan prinsip "memento mori" dan "amor fati", profesi guru menjadi perjalanan penuh makna, bukan hanya rutinitas. Ngajar Sambil Rebahan adalah buku bagi guru yang ingin tetap waras, kreatif, dan relevan di era serbadigital. Sebuah panduan praktis sekaligus renungan mendalam tentang bagaimana mengajar dengan cara baru, hati yang lebih lapang, dan pikiran yang lebih tenang. Buku ini bukan sekadar bacaan, tetapi teman seperjalanan bagi para pendidik masa kini.
Status QRSBN
Nomor QRSBN
62-0428-04244-5
Tanggal Diterima
07 Oct 2026
Tanggal Pengajuan
07 Oct 2026
Status
TervalidasiPenerbit
Nama Penerbit
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo
Lokasi
Kota Probolinggo, Jawa Timur